oleh

Polisi Tahan Lagi Seorang Reseller Investasi Bodong di Lamongan

 

Lamongan – Selain owner, 3 reseller telah ditetapkan sebagai tersangka investasi bodong di Lamongan. Menyusul, reseller bernama FNL (25) yang mulai tadi malam dijebloskan ke sel tahanan Polres Lamongan.

“Fara mulai tadi malam kami tahan, kami tetapkan sebagai tersangka penipuan dan penggelapan,” kata Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Yoan Septi Hendri kepada SURYA.CO.ID, Selasa (15/2/2022).

Tersangka Fara, warga Sukorejo, Kecamatan Lamongan ini masuk dalam jaringan Samudra Zahrotul Bilad, owner investasi bodong.

Fara dilaporkan sejumlah korbannya yang dijanjikan keuntungan besar. Namun, para korban tidak mendapatkan keuntungan apapun.

Bahkan uang Rp 76.100.000 yang diinvestasikan oleh dua korban yang melapor juga tidak kembali. Lagi-lagi alasannya uang sudah disetor ke Bilad, serupa dengan pengakuan 2 reseller yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka.

“Kerugian itu baru untuk dua orang korban yang melapor,” kata Yoan.

Dua korban asal Turi Lamongan dan Gresik mengaku sudah sering menanyakan tentang uang yang diinvestasikannya. Namun selama itu juga, tersangka hanya janji-janji saja.

Tersangka yang menggunakan nama Invest By Fara, dalam menjalankan aksinya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia.

Modusnya, tersangka menawarkan investasi melalui whatsapp dengan iming-iming keuntungan yang fantastis.

Kepada beberapa korban, awalnya bisa memberikan keuntungan yang sangat besar. Namun hanya berlaku untuk beberapa orang, selebihnya, tidak ada lagi keuntungan. Bahkan, modal investasi juga tidak kembali.

Dalam pekan ini, penyidik Polres Lamongan masih akan memeriksa seorang reseller berinisial JHN yang dilaporkan oleh ratusan korban.

Kerugian para korban cukup besar dibanding kerugian korban oleh reseller Fara.

“Tak lama lagi. Ini masih intens diperiksa,” kata Yoan.

Banyaknya saksi korban yang melapor, membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan status JHN sebagai calon tersangka.

Yoan menambahkan, kepada para tersangka dijerat dengan pasal berlapis.

Dugaan tindak pidana menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia dan atau penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) Jo Pasal 16 Undang-Undang RI Nomor 10 tahun 1998 perubahan atas Undang-undang nomor 07 tahun 1992 tentang Perbankan diancam pidana sekurang- kurangnya 5 tahun dan paling lama 15 Tahun dan atau Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP Jo Pasal 65 KUHP diancam pidana 4 tahun.

Dari tangan tersangka Fara, polisi mengamankan barang bukti 4 lembar rekening koran Bank BRI atas nama Luthfia Farah Ardini, 2 lembar screenshot bukti transfer, hape Iphone 7, 4 lembar rekening koran Bank BCA atas nama FNL.

Yoan mengimbau kepada para korban lainnya yang merasa dirugikan untuk tidak segan melapor ke polisi. (ANDIK)

Disisipkan di mana blok iklan akan ditampilkan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.