oleh

Moderasi Beragama, Kunci Terciptanya Toleransi dan Kerukunan Antar Umat di Bali

-Nusantara-5019 views

Bali – Provinsi Bali dikenal sebagai jendela dunia karena merupakan salah satu tujuan wisata favorit bagi wisatawan/i mancanegara maupun dalam negeri.

Selain itu, Bali memiliki beragam suku, agama, ras, dan budaya. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang dimiliki Bali, namun dalam implementasinya, dinamika ekspresi keberagamaan di era demokrasi terkadang berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik antar masyarakat, antar umat beragama atau bahkan internal umat beragama.

Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk menjaga keharmonisan masyarakat Bali yaitu moderasi beragama

“Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan secara personal, keluarga dan masyarakat,” tutur Ustadz H. Nur Achmad Khomeiny, S.Ag, MPd I melalui keterangannya saat mengisi ceramah pengajian Sahabat Subuh di Mushola Al Falah, Jl. Gunung Talang, Dsn. Buana Indah, Ds. Padang Sambian, Kec. Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali, Sabtu (17/9/2022).

Lebih lanjut Ustadz H.Nur Achmad Khomeiny, S.Ag, MPd I menyampaikan bahwa, moderasi dapat diukur dalam empat indikator diantaranya toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, serta pemahaman dan perilaku beragama yang akomodatif terhadap budaya lokal atau konteks Indonesia yang multi-kultural dan multi-agama. Untuk itu, keempat indikator tersebut harus selalu dijaga dan dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat sebagai upaya menciptakan kerukunan berbangsa dan bernegara yang berkelanjutan.

“Tugas penguatan kerukunan umat beragama di samping dilakukan oleh pemerintah, juga dilakukan oleh para tokoh agama. Para tokoh ini merupakan modal yang berharga bagi Bali dalam mewujudkan kerukunan umat beragama,” tegas Ustadz H.Nur Achmad Khomeiny, S.Ag, MPd I.

Oleh karena itu, dihimbau kepada tokoh agama dan masyarakat Bali khususnya Jamaah Musholla Al Falah agar dapat terus menjadi wadah dalam berdakwah sehingga dapat menjaga terciptanya kerukunan beragama di Provinsi Bali.

“Harapan besar kepada Jamaah Musholla Al Falah untuk dapat memelihara dan merawat kerukunan beragama yang diwujudkan dalam tugasnya yaitu melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat serta mampu menjadi jembatan bagi umat untuk menggerakkan moderasi beragama, baik dalam keyakinan dan pemahaman keagamaan maupun tindakan konkret dalam melakukan pencegahan, mediasi, dan penyelesaian konflik antar umat beragama,” ujarnya.

Sebelumnya, Ustadz Thohirul Falah yang merupakan tokoh agama dan Nadir Musholla Al Falah dalam Khotbah Sholat Jum’at juga menyampaikan pentingnya merawat kerukunan dan toleransi antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Untuk mewujudkan kerukunan antar umat beragama semakin disadari peran tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat untuk mendorong terwujudnya kerukunan umat beragama di Prop. Bali,” tutur Ustadz Thohirul Falah dalam ceramahnya. (Red).

Disisipkan di mana blok iklan akan ditampilkan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.