oleh

Suara Rotator Sirine Ambulance Patroli Bergema Di Bumi Sholawat Nariyah, Ketua CDC Dan Aktivis Muda Situbondo Pun Angkat Bicara

-Situbondo-50238 views

 

SITUBONDO, BARANEWS  – Pemakaian rotator sirine pada kendaraan ambulan atau pun patwal diduga berlebihan direspon Ketua CDC Indonesia dan Aktivis Muda Situbondo. Mereka meminta pihak terkait lebih bijak menggunakan rotator sirine pada giat pengawalan agar tidak mengganggu apalagi menciptakan suasana mencekam di masa pandemi, Rabu (21/07/2021).

Dihubungi via seluler, Ketua Komunitas Covid 19 Disaster Care (CDC) Mohammad Agam Hafidiyanto, SH, menuturkan, pihaknya meminta Pemerintah untuk lebih memfokuskan memutus rantai penyebaran dan penanganan pasien C19 tanpa menciptakan suasana mencekam yang bisa menimbulkan ke-paranoid-an ditengah masyarakat.

“Di situasi pandemi covid yang semakin parah, akibat pandemi covid saat ini, masyarakat meminta agar Pemerintah fokus pada pemutusan penyebaran dan penanganan pasien Covid saja tanpa membuat situasi dan kondisi makin mencekam dengan berita bertambahnya korban virus Corona dan sirine Ambulan yang terus menggaung tiap hari dijalan,” bebernya.

“Seyogyanya Pemerintah bisa menciptakan situasi tenang dan mampu menyelesaikan dengan bijak serta memahami karakteristik masyarakatnya bukan hanya berdasarkan prosedur prosedur yang membuat masyarakat menjadi lemah,” imbuhnya.

Sementara, senada dengan Agam, Aktivis muda Kota Santri Budi Arista pun sependapat. Menurut pria kelahiran Landangan ini, meski di legalkan oleh UU, khusus pada kondisi pandemi seperti saat ini, pihak terkait lebih bijak dan mengurangi pemakaian rotator sirine supaya tidak terkesan mengganggu.

“Setidaknya dikurangi agar tak terkesan mengganggu. Mungkin pemakaiannya khusus pada jam-jam padat aktifitas. Masyarakat sudah mengerti, tanpa memakai rotator pun, kalau itu kendaraan ambulan atau patwal, mereka pasti minggir dan memberi jalan kok. Kami butuh ketenangan, jangan sampai penerapan aturan malah menciptakan situasi yang mencekam,” ucapnya.

Secara aturan sudah jelas, pada Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penggunaan lampu isyarat disertai sirine sesuai pasal 134 dan 135, boleh dipasang pada kendaraan yang mendapatkan hak utama.

Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit.
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia.
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara.
f. Iring-iringan pengantar jenazah.
g. Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sedangkan pada Pasal 134, pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas
d. Kendaraan pimpinan lembaga negara Republik Indonesia
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara
f. Iring-iringan pengantar jenazah
g. Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sementara, untuk sanksi, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi kendaraan bermotor yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250.000. Namun yang menjadi pertanyaan, disaat penerapan sebuah aturan ternyata diduga membawa dampak negatif ditengah masyarakat, apakah penerapannya masih diperlukan? Disinilah dibutukan kebijakan yang lebih solutif tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai pondasinya. (Tim)

Disisipkan di mana blok iklan akan ditampilkan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *